Baca dalam Bahasa Indonesia
Read in English

Kecemasan Sosial Berlebihan Bukan Bagian dari Kepribadian: 7 Karakteristik Gangguan Cemas pada Remaja

Sebuah stigma yang umum di masyarakat jika berpikir kecemasan sosial merupakan sesuatu yang normal. Banyak orang menganggap kecemasan sosial hal biasa, bagian dari kepribadian seseorang dan tidak bisa diubah. Para orang tua juga sering beranggapan kecemasan sosial anaknya akan menghilang dengan sendirinya. Sesuatu yang bersifat sementara. Nyatanya, hal ini tidak sepenuhnya salah tapi tidak semua orang memiliki kecemasan sosial dalam batas yang wajar.

Menurut penelitian, masih banyak orang tidak menyadari dirinya memiliki kecemasan sosial berlebihan atau tidak wajar, yang biasanya disebut gangguan kecemasan sosial. Demikian juga, banyak kasus gangguan kecemasan sosial tidak terdiagnosis dikarenakan kurangnya pengetahuan tenaga kesehatan. Selain itu, seperti gangguan jiwa lainnya, kurangnya informasi akan adanya terapi yang efektif terhadap gangguan kecemasan sosial telah berkontribusi dalam begitu banyaknya orang dengan gangguan kecemasan sosial yang belum mendapatkan terapi.

Bagaimana Cara Membedakan Rasa Malu yang Normal dan Kecemasan yang Berlebihan?

Semua orang pasti pernah merasa malu. Hal ini normal. Rasa malu pada dasarnya adalah ciri kepribadian yang normal. Rasa malu biasanya muncul pada situasi sosial. Rasa malu tidak menyebabkan ketidakmampuan dan gangguan pada sebagian besar aspek kehidupan. Lain halnya dengan gangguan kecemasan sosial yang justru sebaliknya.

Sebuah fakta menarik, menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fifth Edition (DSM-5), khususnya individu berusia di atas 18 tahun dinyatakan tidak perlu lagi mengenali kecemasannya sebagai sesuatu yang berlebihan atau tidak wajar untuk didiagnosis gangguan kecemasan sosial. Akan tetapi, lebih tepatnya, kecemasan harus tidak sebanding dengan bahaya atau ancaman yang sebenarnya.

Apakah Ada Klasifikasi Lebih Lanjut Gangguan Kecemasan Sosial?

Ya, ada. Berdasarkan ketakutannya, gangguan kecemasan sosial dapat dibagi menjadi dua yaitu takut terhadap keadaan atau takut terhadap hasil. Selain itu, berdasarkan jumlah situasi sosialnya, gangguan kecemasan sosial dibagi menjadi gangguan kecemasan sosial menyeluruh di mana ketakutan terjadi hampir pada semua situasi sosial dan gangguan kecemasan sosial tidak menyeluruh di mana ketakutan hanya terjadi pada saat berbicara di depan publik atau pertunjukan.

7 Karakteristik Gangguan Cemas pada Remaja
  1. Kewaspadaan tinggi
    Pada situasi sosial, remaja dengan gangguan kecemasan sosial biasanya akan menjadi tegang dan waspada. Mereka akan memindai lingkungan untuk mencari tanda-tanda yang dipersepsikan sebagai bahaya. Mereka memiliki kecenderungan untuk memperhatikan informasi yang mengancam secara selektif dan mengartikan lebih banyak informasi sebagai ancaman. Kewaspadaan ini sangat meningkat dalam situasi sosial di mana mereka merasa dapat diteliti. Mereka akan mendeteksi petunjuk yang menunjukkan ketidaksetujuan dan khawatir tentang penghinaan dan penolakan.
  2. Reaktivitas terhadap hal baru atau perubahan rangsangan
  3. Kepekaan yang meningkat terhadap ancaman
  4. Koping menghindar
    Strategi koping utama remaja dengan gangguan kecemasan sosial adalah menghindar.  Mereka akan menghindari ketakutan mereka. Mereka dapat memiliki taktik seperti bernegosiasi, merengek, menyeret kaki untuk menunda bahkan menangis.
  5. Keluhan somatik
    Paparan terhadap situasi sosial akan menyebabkan kecemasan, hingga seperti serangan panik, dengan gejala berkeringat, bergetar, berbicara yang kacau, merona, palpitasi dan gangguan saluran cerna dan pernafasan. Keluhan somatik ini sering dijadikan alasan untuk menghindar.
  6. Reaksi katastropik
    Ketika upaya untuk menghindar tidak berhasil, remaja dengan gangguan kecemasan sosial dapat berperilaku dengan cara ekstrim, tidak proporsional dengan situasi. Perilaku ini termasuk ledakan, menempel, negosiasi, menangis, merengek, membeku, pertanyaan berulang, kebutuhan yang berlebihan untuk jaminan, berteriak dan penolakan untuk memasuki situasi yang merupakan upaya putus asa mereka.
  7. Akomodasi orang tua
    Saat remaja dengan gangguan kecemasan sosial sudah dalam upaya putus asa mereka, orang tua mungkin secara alami akan merespons dengan melindungi anak-anak mereka dalam upaya untuk meringankan kesusahan anak-anak mereka. Misalnya, orang tua dari anak-anak dengan gangguan kecemasan sosial dapat memesan makanan atas nama anak mereka di restoran ketika mereka melihat anak mereka membeku karena ketakutan. Hal ini disebut akomodasi orang tua yaitu perilaku orang tua yang memungkinkan penghindaran. Secara tidak sadar dan sengaja, orang tua yang mengakomodasi memperburuk kecemasan dengan merampas kesempatan bagi remaja untuk secara langsung menghadapi ketakutan mereka dan mengembangkan rasa otonomi yang sehat. Tanpa kesempatan untuk mencari tahu bagaimana cara mengatasi situasi tersebut, remaja dapat mengembangkan pemikiran bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengelola situasi tersebut dengan sukses. 

Jangan Salah Paham dengan Gangguan Panik!

Gangguan kecemasan sosial dapat menunjukkan gejala yang cukup parah sampai terjadi serangan panik. Serangan panik biasanya identik dengan gangguan panik. Keduanya, baik gangguan panik dan gangguan kecemasan sosial dapat dikatakan serupa tapi tetap dapat dibedakan. Gangguan kecemasan sosial secara konsisten terhubung dengan petunjuk dan situasi sosial.

Faktor Pencetus Gangguan Kecemasan Sosial: Kenapa Muncul pada Masa Remaja?

Gangguan kecemasan sosial pada remaja tidak mengejutkan. Masa-masa remaja merupakan suatu fase peralihan dari ketergantungan pada keluarga menuju pembelajaran akan bagaimana berinteraksi dengan teman sebaya, dengan cara yang akan mengatur mereka selama sisa hidup mereka. Remaja akan menjadi semakin otonom dari orang tua dan bergantung pada kelompok sebaya.

Selain itu, masa remaja merupakan suatu fase berkembangnya kesadaran diri di mana remaja mulai mengarahkan perhatian ke dalam dirinya. Kesadaran diri terdiri dari dua dimensi yaitu dimensi pribadi dan publik. Kesadaran diri pribadi berarti kewaspadaan terhadap pikiran dan perasaan diri sendiri, sedangkan kesadaran diri publik berarti kewaspadaan terhadap diri sebagai objek sosial.

Kesadaran diri publik akan kemudian berkontribusi dalam berkembangnya kecemasan sosial remaja. Peningkatan kewaspadaan diri remaja sebagai objek sosial akan meningkatkan sensitivitas remaja tentang bagaimana orang lain mempersepsikan dirinya. Seolah pedang bermata dua. Satu sisi, kesadaran diri publik dapat membantu remaja membangun perilaku dan hubungan yang lebih dewasa dan bertahan dengan teman sebayanya. Di sisi lain, kesadaran diri publik dapat menimbulkan kerapuhan sehingga meningkatkan kecemasan sosial. Lebih lanjut lagi, penolakan teman sebaya juga meningkatkan kecemasan.

Bagaimana Cara Mudah Menjadi Lebih Tenang?: Progressive Relaxation Muscle

Bagi kamu dengan gangguan kecemasan sosial, ada cara mudah yang dapat kamu latihkan di rumah untuk mengurangi ketegangan dan menenangkan rasa cemasmu yaitu Progressive Relaxation Muscle. Untuk lebih jelasnya, kamu dapat mencari prosedur Progressive Relaxation Muscle dengan melakukan pencarian dalam Web, Youtube atau pergi kepada tenaga kesehatan profesional.

(UK), N. (2021). SOCIAL ANXIETY DISORDER. Ncbi.nlm.nih.gov. Retrieved 19 August 2021, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK327674/.

Jefferson, J. (2021). Social Anxiety Disorder: More Than Just a Little Shyness. Retrieved 19 August 2021, from.

Schneier, F. (2003). Social anxiety disorder. BMJ, 327(7414), 515-516. https://doi.org/10.1136/bmj.327.7414.515

Leigh, E., & Clark, D. (2018). Understanding Social Anxiety Disorder in Adolescents and Improving Treatment Outcomes: Applying the Cognitive Model of Clark and Wells (1995). Clinical Child And Family Psychology Review, 21(3), 388-414. https://doi.org/10.1007/s10567-018-0258-5

Chiu, A., Falk, A., & Walkup, J. (2016). Anxiety Disorders Among Children and Adolescents. FOCUS, 14(1), 26-33. https://doi.org/10.1176/appi.focus.20150029